Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Diduga Jadi Korban Perundungan di SMAN 4 dan SMAN 2 Padang, Orang Tua Desak Investigasi Menyeluruh

Selasa, 11 Agustus 2026 | Agustus 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-12T01:32:36Z
Ko koDiduga Jadi Korban Perundungan di SMAN 4 dan SMAN 2 Padang, Orang Tua Desak Investigasi Menyeluruh

PADANG, SAPU JAGAT — Dunia pendidikan Kota Padang kembali tercoreng. Seorang siswi berinisial SA diduga menjadi korban perundungan berlapis di dua sekolah negeri favorit, yakni SMAN 4 Padang dan SMAN 2 Padang.

Orang tua korban, Magdalena, SH, menyebut putrinya mengalami tekanan psikologis, intimidasi, hingga dugaan kekerasan fisik yang membuatnya trauma untuk kembali bersekolah.

"Anak saya seharusnya mendapatkan perlindungan dan rasa aman di sekolah, bukan justru merasa takut datang belajar," ujar Magdalena, Kamis (12/8).
Awal Mula di SMAN 4 Padang
Menurut Magdalena, dugaan perundungan bermula sekitar delapan bulan lalu saat SA masih menjadi siswi di SMAN 4 Padang. Ia menduga anaknya mendapat tindakan kekerasan fisik berupa penamparan oleh oknum guru.

Keluarga kemudian melakukan mediasi dengan pihak sekolah. Dalam mediasi tersebut, disebut telah ada kesepakatan tertulis agar tidak ada lagi tindakan yang merugikan SA. Namun, usai mediasi, Magdalena mengklaim tekanan justru berlanjut dalam bentuk diskriminasi dan intimidasi psikologis.

Kondisi itu membuat psikologis SA terganggu hingga keluarga memutuskan untuk memindahkannya.
Bertahan Sehari di SMAN 2 Padang
Harapan mendapat lingkungan baru yang lebih aman di SMAN 2 Padang pupus. Magdalena mengatakan anaknya hanya bertahan satu hari efektif.

Pada hari kedua, SA kembali diduga mengalami tekanan psikologis dari sejumlah oknum pendidik. Dugaan pemicu disebut berkaitan dengan unggahan di media sosial TikTok yang menimbulkan asumsi tertentu terhadap SA.

Keluarga menduga ada komunikasi antara oknum di sekolah lama dan sekolah baru yang memperburuk situasi.

Akibat rangkaian kejadian tersebut, SA kini mengalami trauma berat dan menolak kembali ke sekolah negeri. Keluarga akhirnya memindahkan SA ke sekolah swasta untuk memulihkan kondisi psikologis dan menyelamatkan pendidikannya.
Tuntutan Orang Tua
Magdalena mendesak Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat untuk:
1. Membentuk tim pemeriksa independen dan objektif. 2. Melakukan klarifikasi menyeluruh kepada seluruh pihak yang disebutkan. 3. Memberikan sanksi tegas sesuai aturan jika terbukti ada pelanggaran kode etik dan perlindungan anak. 
Ia menegaskan, kasus ini harus menjadi alarm bagi dunia pendidikan agar sekolah benar-benar menjadi ruang aman bagi anak.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya meminta konfirmasi resmi dari Dinas Pendidikan Sumbar, Kepala SMAN 4 Padang, dan Kepala SMAN 2 Padang untuk keberimbangan informasi.
(Tim)
×
Berita Terbaru Update