Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

GUS BAHA: POLISI JAGA KETERTIBAN, NILAI KETUHANAN JAGA KESADARAN MANUSIA

Minggu, 27 September 2026 | September 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-27T17:35:39Z
GUS BAHA: POLISI JAGA KETERTIBAN, NILAI KETUHANAN JAGA KESADARAN MANUSIA

REMBANG, SAPUJAGATNEWS - Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Rembang, K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, menegaskan pentingnya sinergi antara penegakan hukum dan penguatan moral keagamaan dalam menjaga ketertiban masyarakat.

Saat ini, Gus Baha mengemban amanah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Lembaga Pembinaan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3IA) Rembang, meneruskan kepemimpinan sang ayah. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Ketua Tim Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII).
Dalam tausiyahnya pada kegiatan Ngaji Kebangsaan bersama Polri, Gus Baha menyampaikan bahwa keberadaan polisi sangat vital untuk mencegah kejahatan dan menjaga ketertiban. Namun, menurutnya, ketertiban yang sejati tidak cukup hanya dibangun dari rasa takut terhadap hukum.

Ia menjelaskan, jika kebaikan hanya dilakukan karena takut ditangkap polisi atau takut sanksi sosial, maka kebaikan itu akan rapuh. Sebab, bagaimana jika seseorang berada di tempat sepi tanpa ada polisi dan tanpa ada yang melihat?

“Di sinilah letak pentingnya Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Orang yang punya kesadaran bertuhan akan tetap berbuat baik, meski tidak ada polisi dan tidak ada manusia yang melihat. Karena dia sadar Allah Maha Melihat,” tegas Gus Baha.

Menurut ulama ahli tafsir tersebut, tugas Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai agama. Penegakan hukum adalah pagar luar, sedangkan nilai ketuhanan adalah pagar dalam yang ada di hati setiap individu.

Gus Baha berharap, kolaborasi antara ulama dan umara, khususnya Polri, terus diperkuat. Dengan begitu, kebaikan di tengah masyarakat tidak lahir karena paksaan atau ketakutan akan hukuman, melainkan tumbuh dari kesadaran moral dan spiritual yang kuat dalam diri setiap warga negara.

*(Husna/Red)*
×
Berita Terbaru Update