Hosting Gratis

GITA WIRJAWAN KETURUNAN BRAWIJAYA V

GITA WIRJAWAN KETURUNAN BRAWIJAYA V
Hosting Gratis

PULUNG GUNUNG LAWU MEMILIH GITA? (Serie-2/TAMAT)

SAPUJAGAT NewsJangan melupakan karakter penguasa Gunung Lawu yang tak cocok dengan karakter Dahlan. Gayanya yang, entah memang begitu adanya atau sekadar propaganda dalam rangka menuju kursi presiden, meledak-ledak tentu tak beriringan dengan pembawaan Gunung Lawu. Masih ingat betapa mudahnya hati Dahlan mudah meledak setiap menghadapi situasi yang menurut orang awam tak baik.

Contohnya adalah sikap Dahlan yang serta merta membuka paksa pintu tol atau gaya bicara meledak-ledak. Itu mengesankan sikap tak santun atau grusa-grusu, tak seirama dengan pembawaan Soeharto atau SBY. Kalem dan begitu rapat menyimpan kegalauan hati. Seberapapun kecewa dan marahnya melihat ketidaksesuai hati terhadap suatu keadaan.

Prabu Brawijaya Kaping 5 nampak begitu mudah sumeleh (pasrah pada kehendak Allah), kendati sebenarnya bisa saja beliau melawan tantangan putranya berbekal status sebagai Raja Majapahit. Namun, yang dipilih adalah sikap mendem njero, sabar, tawakal dan tak mudah meledak. Dengan gelar Sinuhun Bumi Nata Brawijaya Ingkang Jumeneng Kaping 5 (pamungkas), beliau justru memilih moksa (menghilang) meninggalkan dari urusan duniawi.

PULUNG UNTUK GITA

Dalam urusan ini, jalan terjal Dahlan ada pada diri Gita. Jauh lebih muda, jauh lebih intelek, jauh lebih berpendidikan, jauh lebih lengkap urusan sosialnya bahkan jauh lebih kalem, tentu di mata penguasa Gunung Lawu. Falsafah Jawa Ojo dumeh, Gumunan, Ojo Kagetan (Jangan mentang-mentang, jangan mudah terheran-heran, jangan mudah terkejut), nyaris dimiliki Gita.

Berpembawaan kalem atau tak pernah terdengar mentang-mentang, gaya bicara santun atau hormat pada orang lebih tua, menjadi ciri Gita Wiryawan. Kendati lahir di Jakarta, darah Prabu Brawijaya Kaping 5 nampak lebih mengalir liar di tubuh putra pasangan Wirjawan Djojosoegito dan Paula Warokka Wirjawan.

Soal darah, Gita juga tak kalah murni ketimbang Dahlan. Garis keturunan terbaik ada pada diri penggemar music jazz itu. Menteri Perdagangan itu masih memiliki hubungan kerabat dengan KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur melalui Mbah Hasyim Putri, isteri Rois Akbar dan pendiri Nahdlatul Ulama KH. Hasyim Asyari.

Hubungan kekerabatan itu masuk dalam klan Mbah Hasyim Hasyari dari Mbah Hasyim Putri. Wirajawan Djojosoegito, ayah Gita Wirjawan masih kerabat Mbah Hasyim Putri. Nenek moyangnya, Mbah Hasyim Putri, kini masih tinggal di Maduin, kaki Gunung Lawu juga. Keluarga Djojosoegito, meski keluarga santri, juga banyak melahirkan tokoh-tokoh intelektual.

“Ketika saya menyampaikan masalah kekerabatan tersebut, Pak Gita sempat kaget dan saya mengatakan kepada beliau jangan sampai meninggalkan akar garis keturunan,“ ujar Hj. Lili Chodidjah Wahid atau yang akrab dipanggil Lily Wahid, adik kandung Gus Dur.

Kelebihan itu lah, yang membuat Demokrat (baca: SBY) akhirnya memutar kunci lain dengan menyiapkan sosok tokoh muda Gita Wirjawan sebagai satria piningit. Gita diyakini dapat mengembalikan kejayaan partai dan melindungi segenap pemilik kepentingan di negeri ini. Paling tidak, segala prasyarat Pulung Gunung Lawu dimiliki pria kelahiran Jakarta, 21 September 1965 itu.

Kekurangan Gita hanya pada statusnya yang mengambang di dunia jurnalistik. Dahlan, dengan segala kemampuannya, pasti mudah menggerakkan mesin medianya. Dan itu sudah Nampak sejak sekitar empat bulan lalu. Betapa mudahnya melihat sosok Dahlan di ratusan media massa miliknya di negeri ini. Apapun kegiatan Dahlan, pasti muncul di media. Tak peduli nilai beritanya nol besar. Ibaratnya, Dahlan, maaf, kentut pun, pasti muncul di media milik grup perusahaannya. Namun, kondisi itu justru menunjukkan sulitnya Dahlan menghindari sikap ojo dumeh. Orang Jawa bilang, “Dumeh duwe media (mentang-mentang punya media) …”

Gita adalah sebuah sosok yang sudah dipersiapkan sejak dari kandungan, kemudian lahir dan dibesarkan dengan sistematis dan penuh strategi, yang taat dan tunduk pada titah sang ‘Raja Cikeas’. Selalu mengawal dan menjaga ‘pangeran Cikeas’, aktif bermitra secara politik dan bisnis dengan tokoh-tokoh dari aliran politik lain, memiliki bibit unggul genitas dari sisi kebangsawanan, kerohaniawanan (memiliki kekerabatan dengan pendiri Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah) dan keilmuan (lulusan Harvard University).

Gita bahkan merupakan sosok masa depan bangsa melalui kemampuan menyinergikan kepentingan negara super power dan sekutunya terhadap misi Indonesia. Jabatan Menteri Perdagangan memosisikan Gita untuk selalu dekat dengan rakyat, membuatnya selalu berada pada posisi peduli terhadap perut dan ekonomi rakyat. Pada momen tepat, Gita akan muncul sebagai sosok yang menyelamatkan perekonomian Indonesia di tengah jatuhnya perekonomian dunia.

Konvensi Partai Demokrat tentu saja sebuah metode terbaik demi memuluskan misi SBY untuk Gita Wirjawan. Sederet aturan, syarat, tes dan prosedur baku dalam sebuah konvensi pasti akan mudah dituntaskan cucu pendiri Muhammadiyah itu, bukan karena sebuah rekayasa dan konspirasi, melainkan kompetensinya memang dan di atas rata-rata, kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni di usia yang masih muda, pengalaman politik dan bisnis serta relasi yang mendunia.

Semua itu pasti menempatkan sosok Gita Wirjawan dalam nilai tertinggi dalam sebuah kompetisi. Dan yang terpenting, kehadirannya di konvensi Partai Demokrat mampu menutup kepentingan kader partai yang menggaungkan totalitas dan fanatisme kepartaian. Yang mengagungkan nilai kepatutan bahwa calon presiden harus berasal dari kader partai. (sj4)

Berita Terkai

Gita Penggemar Berat Miles Davis

Kredo Gita Kilapkan Perdagangan Indonesia

PDIP dan Demokrat Mengelus Jago